Keuangan lancar belum tentu segalanya cukup

Keuangan lancar belum tentu segalanya cukup

Keuangan lancar bikin kita berandai-andai beli ini itu, belanja ini itu, dan bayar ini itu. Kemudian ingat ternyata ada tanggungan-tanggungan yang harus diselesaikan

Awal bulan gini biasanya waktunya keuangan jalan lancar. Karyawan gajian, anak kost dapet transferan dari orang tuanya, atau mungkin ada invoice cair. Perjuangan hampir sebulan berdarah-darah rasanya terobati dalam sehari ini. Mengandai-andaikan beli ini itu, belanja ini itu, dan bayar ini itu. Kemudian ingat ternyata ada tanggungan-tanggungan yang harus diselesaikan. Mungkin bayar buku, bayar arisan, bayar cicilan, bayar listrik, bayar kost, dan bayar-bayar yang lain yang ternyata membuat saldo hanya numpang lewat.

“Kok kurang sih”

“Kok tinggal segini sih”

“Kok udah abis lagi sih”

Dan kok-kok lainnya yang tanpa kamu sadari hanyalah rentetan keluhan. Keluhan bahwa gajimu kurang, keluhan kerjaan banyak, keluhan badan capek semua, keluhan ingin piknik, dan lain-lain. Tampak tak ada habisnya ya? Manusia memang banyak butuhnya sekaligus banyak inginnya. Padahal ya mungkin saja yang diinginkan itu tidak dibutuhkan. Bahkan setelah kebutuhan pokok terpenuhi pun akan ada saja kekurangan yang tak ada ujungnya,

“Duh, ini laptop udah ga bisa diajak kerja sama nih ngadat melulu”

“Kayaknya butuh setelan baru deh buat kerja”

“Jerawatan dan gendut gini mana mungkin ada yang mau sama aku”

Dan keluhan-keluhan lainnya yang membuat kekurangan semakin tampak kurang dan kurang.

Merasa tidak, semakin kita memikirkan kekurangan-kekurangan itu kita menjadi semakin stress? Semakin kepikiran? Semakin gelisah? Semakin kita mengeluh, semakin terasa berat? Semakin bertambah beban? Padahal ada pilihan untuk melepaskannya. Ada pilihan untuk menerimanya. Ada pilihan untuk merasa cukup.

Merasa cukup tidak hanya soal materi, namun juga menerima dan bersyukur atas diri sendiri.

Merasa kurang menarik? Merasa kurang kurus? Merasa kurang kaya? Padahal badan ini sehat lho. Padahal fisikku kuat diajak kerja lho. Padahal aku punya kemudahan akses berkegiatan lho. Padahal aku punya atap rumah yang melindungiku lho. Nah, kan, jika merasa cukup, sebenarnya ada banyak kelebihan yang kita miliki.

Coba deh kamu praktekan berdiri di depan lemari pakaian sambil berujar “Cukup kok ini buat ganti-ganti ke kantor sebulan ini. Nanti kalau ada rejeki beli ah”, atau ketika memandang sisa saldo di layar smartphone sambil berujar “Cukup kok ini buat sebulan. Kayaknya emang harus ngirit sih, tapi bisa lah”. Yakin deh akan ada terasa ada beban yang terangkat dari bahumu. Nafas terasa menjadi lebih lega. Mata terasa menjadi lebih jernih.

Kita sibuk berkutat memenuhi kebutuhan, tapi kadang lupa bersyukur dan menikmati yang sudah ada. Kita sibuk memikirkan segala kekurangan dan ketakutan, padahal sebenarnya apa yang kita dapatkan mampu untuk mencukupi yang kita mau.

Pernah mendapat gaji kecil? Pernah uang kiriman tinggal sedikit? Pernah? Kamu masih ada kan hari ini? Bagaimana uang seratus ribu terasa kurang padahal jika terpaksa adanya sepuluh ribu juga bisa membuatmu bertahan? Ajaib kan kemampuanmu? Jika kita menyadarinya, semua ini hanyalah tentang mindset. Tentang pola pikir kita untuk menerima dan bersyukur pada apa yang telah ada. Jika di kepala kita terus-terusan merasa kurang, ya tetap akan terus terasa kurang. Namun jika di kepala kita merasa telah cukup, sesedikit apapun akan terasa cukup.

Ada pepatah Jawa yang berbunyi “Akeh durung mesti cukup, sithik durung mesti kurang. Ojo mburu seneng, nanging mburu’o ayem. Nrimo ing pandum tansah eling lan bersyukur”. Artinya, banyak belum tentu cukup, sedikit belum tentu kurang. Jangan cuma memburu senang, tapi lebih baik memburu tenang. Menerima keadaan dengan selalu ingat dan penuh rasa syukur.

Terdengar mudah namun sulit ya? Tapi tak ada salahnya dicoba, yuk! Mari kembali ke kenyataan bahwa keuangan kita bisa berkurang tapi juga bisa dicari lagi. Ada barang yang belum terbeli tapi nanti juga pelan-pelan bisa kebeli. Badan gendut atau kurus tapi sehat dan bahagia. Bahwa apa-apa yang sudah dan sedang kita miliki saat ini adalah cukup.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *